Pages

7 manusia terakhir versi Pondok reot

1.Lelaki China ini jadi manusia gua terakhir sejagat
Di saat semua warga dunia mengalami modernisasi di pelbagai lini, lelaki China ini malah balik ke zaman batu. Dia bahkan tinggal di gua sudah dilakoninya selama lebih dari dua dekade.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Jumat (23/8), Feng Mingshan harus memanjat 50 meter di sebuah tebing tegak lurus agar dapat memasuki rumahnya sangat tradisional dengan pintu kayu. Dia pindah ke Kota Gaoba di sebelah utara China, Provinsi Shaanxi pada 1993 lantaran tidak ingin dikelilingi banyak orang.
Kini dia hidup terisolasi dan meninggalkan segala gaya hidup modern, termasuk pakaian. Dia memilih berkegiatan bugil, termasuk mengumpulkan kayu bakar untuk masak.
Adik Mingshan yakni Feng Xueming mengatakan kakaknya mempunyai kepribadian aneh. "Dia tidak suka berkomunikasi dengan orang lain," ujarnya. Sudah 20 tahun dia tinggal di gua dan menata guanya itu, bahkan membuat jalan tapak agar lebih mudah mencapai rumahnya.
Surat kabar setempat menuliskan Mingshan menemukan gua itu sendiri waktu kecil. Berbekal palu dia membuat ruang dalam gua menjadi lebih besar dan lebih nyama untuk ditinggali.
Penduduk di sekitar gua Mingshan menyebutkan lelaki itu biasa berkegiatan di malam hari dan tidak kesulitan dengan cahaya. Meski banyak orang berdecak kagum dengan gaya hidup Mingshan pemerintah setempat berencana memindahkannya ke sebuah rumah rehabilitasi. Dia dikategorikan mengidap penyakit mental dan akan mendapat perawatan intensif.
Wali Kota Gaoba Xu Min mengatakan mereka mengawasi Mingshan dan terus berupaya mengajak lelaki itu mendiami rumah konvensional. 

2.Jinichi, Ninja Terakhir di Bumi

"Jika saya mati, seni bela diri ninjutsu akan mati bersama saya."



Ditempatkan pada bingkai zaman ini, Jinichi Kawakami mungkin jadi sebuah anakronisme. Ia mewarisi keterampilan dari periode lima abad lalu, masa ketika nuklir dan Internet masih dianggap sebagai kemustahilan. Lelaki Jepang berusia 63 tahun itu pun berhenti sebagai teknisi dan memutuskan mengajar sejak satu dasawarsa silam. 
"Jika saya mati," katanya, "seni bela diri ninjutsu akan mati bersama saya." 
Jinichi adalah ketua klan Ban yang ke-21. Sejak tahun 2002, ia memutuskan menjadi pengajar ninjutsu, ilmu bela diri, strategi, taktik berperang dan bergerilya, serta spionase, yang dipraktikkan oleh shinobi (ninja) meski ia tahu abad ini tak lagi memberi ruang longgar bagi 'pendekar' sepertinya. 
"Tak ada lagi ninja sejati," ujarnya. 
Di Jepang, Jinichi dianggap sebagai ninja terakhir. Mendapat pelatihan ninjutsu sejak usia 6 tahun, ilmu yang ia dapatkan langsung diturunkan oleh para ninja berpengaruh.
"Agaknya, saya disebut sebagai ninja terakhir karena tak ada orang lain yang memelajari ilmu itu langsung dari sumbernya seperti saya," ujarnya.
Menurutnya, para 'ninja' kini cuma ada dalam fiksi atau terlibat dalam unjuk keterampilan demi mempromosikan Iga, daerah yang terletak sekitar 350 km barat daya Tokyo. Dulunya, Iga adalah 'kampung' ninja. 
Misteri ninja
Jinichi menyebut bahwa sejarah ninja diselubungi dengan misteri. "Ada beberapa gambar alat-alat yang mereka gunakan. Tapi kami tak pernah menemukan secara utuh," katanya.
Gelapnya informasi tentang hal-ihwal ninja disebabkan oleh tradisi yang mereka jaga: hanya menyampaikan pengetahuan secara lisan. "Kami tak pernah mengetahui elemen apa saja yang hilang dalam penyampaiannya," katanya.
Ketaklengkapan informasi itu membuat banyak keterampilan ninja yang masih terlihat hari-hari ini sulit diverifikasi. 
"Kami tak bisa lagi membunuh dengan racun. Meski kami bisa mengikuti petunjuk pembuatan racun, kami tak bisa mencobanya," ujarnya. 
Jurus andalan
"Manusia takkan selamanya bisa waspada. Akan selalu ada saat ketika mereka lengah," kata Jinichi. 
Kekuatan fisik bukan senjata utama ninja. Tapi, bagaimana membuat sasaran menjadi lalai dengan keadaan sekeliling.
Bagi para jawara itu, mencari kelemahan musuh adalah titik perhatian utama. 
Kini, Kawakami, yang berguru ninjutsu kepada Masazo Ishida, mulai melakukan penelitian di Universitas Mie, tempat ia belajar sejarah ninja.
Baginya, takkan ada ketua klan Ban ke-22. "Ninja tak lagi cocok bagi zaman ini," ujarnya. 

3.Inilah Manusia Terakhir Suku Aztec 

Schlitzie (atau ada yg menyebut Schlitze atau Shlitze). Lahir di New York , 10 September 1901, byk yang berpendapat ia mungkin lahir dengan nama Simon Metz, namun secara hukum namanya adalah

Schlitze Surtees. Seorang pemain sideshow Amerika dan sesekali menjadi aktor dalam film yang terkenal untuk perannya dalam film Tod Brownings Freaks (1932) dan kariernya hidup nya didunia sirkus Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus sebagai daya tarik tontonan utama. Ia diasuh, dibesarkan, dan dirawat oleh seseorang yang bernama Surtees.





Selain itu, beberapa menyatakan bahwa ia lahir di Santa Fe, New Mexico. Klaim bahwa ia lahir di Yucatn, Meksiko, mungkin merujuk kepada tafsiran keliru dan aneh dimana Schlitzie sebagai The Last dari Aztec. Namun identitas lahir Schlitzie mungkin tidak pernah diketahui, informasi yang telah hilang karena ia diserahkan ke berbagai karnaval disepanjang karier dan hidupnya.





Riwayat Hidup



Schlitzie dilahirkan dengan mikrosefali, gangguan neurodevelopmental yang membuatnya lahir dengan otak dan tengkorak yang luar biasa kecil , dan bertubuh kecil (dia berdiri sekitar empat kaki tinggi (122cm), serta keterbelakangan mental yang berat. Dikatakan Schlitzie hanya memiliki kesadaran anak umur tiga tahun, ia tidak mampu sepenuhnya merawat untuk dirinya sendiri dan ia hanya bisa berbicara dalam kata-kata bersuku kata satu dan membentuk sebuah kalimat sederhana. Namun, ia masih mampu melakukan tugas sederhana dan diyakini mengerti sebagian besar dari apa yang dikatakan kepadanya, karena ia memiliki waktu reaksi yang sangat cepat dan kemampuan untuk meniru. Mereka yang tahu Schlitzie menggambarkan dia sebagai anak yang bersemangat, riang, ramah ,suka menari, menyanyi dan menjadi pusat perhatian.
- See more at: http://www.apakabardunia.up2det.com/2013/02/inilah-manusia-terakhir-suku-aztec.html#sthash.0u9IYAJZ.dpuf
 Schlitzie (atau ada yg menyebut Schlitze atau Shlitze). Lahir di New York , 10 September 1901, byk yang berpendapat ia mungkin lahir dengan nama Simon Metz, namun secara hukum namanya adalah

Schlitze Surtees. Seorang pemain sideshow Amerika dan sesekali menjadi aktor dalam film yang terkenal untuk perannya dalam film Tod Brownings Freaks (1932) dan kariernya hidup nya didunia sirkus Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus sebagai daya tarik tontonan utama. Ia diasuh, dibesarkan, dan dirawat oleh seseorang yang bernama Surtees.





Selain itu, beberapa menyatakan bahwa ia lahir di Santa Fe, New Mexico. Klaim bahwa ia lahir di Yucatn, Meksiko, mungkin merujuk kepada tafsiran keliru dan aneh dimana Schlitzie sebagai The Last dari Aztec. Namun identitas lahir Schlitzie mungkin tidak pernah diketahui, informasi yang telah hilang karena ia diserahkan ke berbagai karnaval disepanjang karier dan hidupnya.



Riwayat Hidup

Schlitzie dilahirkan dengan mikrosefali, gangguan neurodevelopmental yang membuatnya lahir dengan otak dan tengkorak yang luar biasa kecil , dan bertubuh kecil (dia berdiri sekitar empat kaki tinggi (122cm), serta keterbelakangan mental yang berat. Dikatakan Schlitzie hanya memiliki kesadaran anak umur tiga tahun, ia tidak mampu sepenuhnya merawat untuk dirinya sendiri dan ia hanya bisa berbicara dalam kata-kata bersuku kata satu dan membentuk sebuah kalimat sederhana. Namun, ia masih mampu melakukan tugas sederhana dan diyakini mengerti sebagian besar dari apa yang dikatakan kepadanya, karena ia memiliki waktu reaksi yang sangat cepat dan kemampuan untuk meniru. Mereka yang tahu Schlitzie menggambarkan dia sebagai anak yang bersemangat, riang, ramah ,suka menari, menyanyi dan menjadi pusat perhatian.


 4.Tatanka Iyotake, Pejuang Indian Terakhir 
 Tatanka Iyotake (Tatanka Iyotanka), begitulah orang-orang menyebut namanya. Ia adalah orang Indian dari suku Hunkpapa Sioux (suku yang dikenal sebagai salah satu suku Indian yang paling keras menentang pendudukan orang kulit putih). Ia mempunyai banyak panggilan, yaitu Slow, Jumping Badger, dan Sitting Bull.

http://www.historyforkids.org/learn/northamerica/after1500/history/pictures/sittingbull.jpg
Tatanka Iyotake a.k.a Sitting Bull

Tanggal kelahiranya tak ada orang tahu, tapi intinya adalah ia lahir pada tahun 1831 di dekat Grand River. Ia dikenal sebagai jenderal perang pasukan Indian yang mempunyai sekitar 3500 prajurit. Bersama pasukanya, ia berjuang untuk mengusir kaum pendatang kulit putih dari wilayahnya, mereka mengusir para penduduk kulit putih karna orang-orang kulit putih selalu merebut wilayah kekuasaan mereka.

Tatanka Iyotake
Bersama pasukanya, ia telah menjalani berbagai perang melawan pasukan Kulit Putih (pasukan Amerika), mulai dari perang Awan Merah yang terjadi antara tahun 1865 sampai 1868, Perang besar Sioux yang terjadi antara tahun 1876 sampai 1877, hingga perang yang sangat terkenal, yaitu perang yang dinamakan Beatle of Little Bighorn dimana Ia dan pasukannya melawan Pasukan Pasukan Amerika di bawah komando George Amstrong Custer pada 25 Juni 1876 dimana ia menggunakan taktik gerilya dan berhasil membunuh banyak pasukan Amerika walaupun pada akhirnnya harus kalah..

Perang tanduk kecil Beatle of Little Bighorn di tahun 1876 yang merupakan perang antara kaum Indian melawan kaum kulit putih berawal saat terjadinya perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak, Suku Indian dibolehkan membangun perkampungan di Dakota, tapi ternyata orang kulit putih justru mengusir suku Indian dari dakota hanya karna di Dakota ditemukan banyak kandungan emas yang berlimpah. ia pun kemudian mengadakan perlawanan kepada Amerika.Perang itu dianggap sebagai perlawana terakhir suku Indian sebelum akhirnya kaum kulit putih mendeklarasikan kemerdekaan mereka atas negara Inggris dan menamakan diri mereka negara Amerika Serikat.
Ilustrasi Beatle of Little Boghorn

http://www.hometowninvasion.com/photos/470/IMG_5097.jpg
Tempat terjadinya perang little Bighorn
Di Akhir Hidupnya, ia tetap mendedikasikan dirinya untuk kebebasan kaum Indian. Ia berkeliling Amerika untuk mengadakan pertunjukan Wild West Show dimana ia menampilkan tarian yang selalu membangkitkan semangat Indian untuk mengadakan perlawanan pada Amerika. Ia pun akhirnya meninggal setelah kepalanya ditembak oleh pasukan Amerika. ia kemudian dimakamkan di komplek pemakaman Fort Yates sebelum akhirnya makamnya dipindahkan ke komplek makam suku Indian di Mobridge di South Dakota pada tahun 1953.
Makam tatanka Iyotake di South Dakota
Hingga kini, Perjuanganya akan selalu diingat oleh warga Indian. dan oleh seluruh Rakyat Amerika, bahkan cerita kepahlawananya diabadikan dalam sebuah film yang diberi judul Sitting Bull,

5.CLEOPATRA


 Nama Cleopatra pasti setiap orang akan membayangkan seorang Ratu yang cantik jelita, anggun menawan setiap orang yang melihatnya. Menurut sejarah sang Ratu bertahta di Kerajaan Mesir yang memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Selain cantik Cleopatra memiliki strategi politik yang cerdas untuk mengalahkan musuh musuhnya.Sedemikian jelitanya ratu yang satu ini, sampai bisa memikat hati dua penguasa
  Romawi yaitu JuliusCaesar dan Mark Anthony, di dua jaman berbeda.
Akibat daya tarik Cleopatra ini pula, Triumvirate (tiga penguasa)
Romawi jadi bertikai satu sama lain. Demi mendapatkan Cleopatra, Mark
Anthony rela meninggalkan istrinya, yang merupakan adik Octavianus.
Terang saja Octavianus marah besar. Ia pun menyerang Mark Anthony dan
Cleopatra dengan menggunakan armada tempurnya. Pasukan Mark Anthony
dan Cleopatra kalah dalam pertempuran di Actium, Yunani tahun 33 sM.


Bak drama Romeo dan Juliet yang terlalu cepat 15 abad – Mark Anthony
dan Cleopatra bermaksud meneruskan cinta mereka di “alam baka”. Keduanya
bunuh diri. Mark Anthony bunuh diri dengan menikam diri menggunakan
pedang, dan akhirnya meninggal di pangkuan Cleopatra. Sementara sang
ratu melakukan bunuh diri dengan membiarkan dirinya dipatuk ularKobra Mesir.
Setelah meninggalnya Cleopatra, Mesir jatuh dalam kekuasaan Octavianus,
yang selanjutnya menjadi Kaisar Terbesar Romawi – dengan nama baru :
Kaisar Augustus, yang namanya sekarang kita pakai sebagai nama bulan.


Ilmuwan Jerman menemukan Cleopatra meninggal bukan karena gigitan ular tapi minuman beracun. Ratu Sungai Nil ini diceritakan meninggal akibat gigitan ular Egyptian cobra yang mematikan. Namun, Christoph Schaefer, ahli sejarah asal Jerman dan profesor di University of Trier, menampilkan bukti bahwa terdapat obat-obatan yang menjadi alasan kematian dan bukan reptil.


 “Ratu Cleopatra begitu terkenal akan kecantikannya dan tidak mungkin dirinya melakukan sesuatu yang dapat menodai kematiannya,” ujar Schaefer seperti dikutip dari Telegraph.
Ia kemudian melakukan perjalanan dengan ahli lain menuju Alexandria, Mesir di mana melakukan penelitian dari bacaan medis kuno serta ahli ular. “Cleopatra menginginkan kecantikan yang abadi dalam kematiannya untuk menjaga mitos dirinya,” kata Schaefer dalam acara Adventure Science di stasiun televisi Jerman.
“Dia mungkin saja mengkonsumsi minuman yang mengandung opium, hemlock dan aconitum. Campuran ini diketahui menyebabkan kematian tanpa rasa sakit dalam beberapa jam, sedangkan kematian akibat ular membutuhkan waktu beberapa hari dan terasa menyakitkan.”
Cleopatra memerintah pada tahun 51SM hingga 30SM dan merupakan orang terakhir yang memerintah Mesir sebagai Firaun. Setelah kematiannya, Mesir menjadi provinsi Romawi.
Cleopatra merupakan sekutu dari Kaisar Romawi Julius Caesar dan menjalin hubungan dengan Jenderal Romawi, Mark Antony.
Cleopatra dan Mark Antony diceritakan memiliki tiga anak dan terdapat surat yang menyebutkan bahwa mereka telah menikah meskipun keduanya sama-sama telah berkeluarga.
Pada 44 SM, setelah pembunuhan Caesar, Cleopatra bersama Antony bertentangan dengan pewaris Caesar, Gaius Julius Caesar Oktavianus. Setelah kalah di Pertempuran Actium dari pasukan Oktavianus, Antony bunuh diri.


Ahli arkeologi Mesir rencananya akan memulai pengalian situs di Mesir. Penggalian ini dikhususkan untuk mengungkap misteri tempat peristirahatan terakhir Ratu Cleopatra yang dimakamkan bersama kekasihnya Marc Anthony.
Egypt’s Supreme Council of Antiquities telah menyatakan ke publik bahwa tim arkeologi berupaya mencari makam Ratu Mesir dan Roma dengan memulai pencarian pada tiga situs yang disinyalir menjadi tempat bagi para makam-makam bersejarah tersebut. Demikian seperti dilansir melalui Yahoo News, Kamis (16/4/2009).

Menurut keterangan yang didapat dari para arkeolog makam Cleopatra dan Mark Antony diduga tersimpan di sebuah kuil dekat laut Mediterania.
Penemuan yang menarik lainnya terkait dengan Cleopatra, pada penggalian arkeologi tahun lalu ditemukan patung pualam berwarna putih berbentuk kepala Cleopatra. Patung wajah Cleopatra dihiasi oleh 22 koin dan topeng yang diduga milik Mark Antony.
Sementara itu ketiga situs yang dijadikan petunjuk penemuan makam Cleopatra ditemukan bulan lalu pada saat arkeolog melakukan survei radar di kuil Taposiris Magna. Kuil tersebut berlokasi dekat dengan sebelah utara Alexandria dan nampaknya dibangun pada masa kekuasaan Raja Ptolemy II (282-246 SM).
Tim pencari dari Mesir dan Republik Dominika membutuhkan waktu selama tiga tahun hingga pada akhirnya bisa menemukan beberapa tombak di dalam kuil. Konon tiga diantaranya dipergunakan untuk upacara pemakaman.
Zahi Hawass, arkeolog ternama Mesir memberikan pendapatnya dengan mengatakan patung Cleopatra berkoin terlihat sangat menarik. Hal ini membuktikan teori yang beredar selamam ini bahwa Ratu Cleopatra diidentikan memiliki garis wajah yang tajam dan jelek. �
“Penemuan di Taposiris mencerminkan bahwa wujud Cleopatra sangat menarik,” ujar Hawass.
Penemuan situs dekat Alexandria ini juga mengungkapkan sejumlah besar makam tak dikenal diluar area kuil. Selain itu ditemukan pula sebanyak 27 makam dan 10 buah mumi.
Berdasarkan ciri-cirinya, makam tersebut diperkirakan dibangun pada masa Greco-Roma. Kehadiran makam-makam tersebut juga sekaligus menandakan bahwa orang-orang yang berkuasa di masa itu, dimakamkan di dalam kuil. Sementara makam rakyat jelata berada di luar area kuil.


Selama ini sejarah mencatat bahwa Cleopatra tewas karena gigitan ular kobra. Namun, ilmuwan asal Jerman berpendapat lain, Cleopatra tewas setelah mengonsumsi jenis narkoba, termasuk opium. Profesor dan sejarawan asal Universitas Trier, Christoph Schaefer memiliki bukti bahwa ratu Mesir kuno itu tewas karena campuran opium, hemlock (sejenis pinus beracun), dan aconitum (sejenis tanaman beracun).
“Ratu Cleopatra terkenal akan kecantikannya tapi kematiannya penuh penderitaan,” kata dia, seperti dikutip dari laman The Telegraph.
Selama ini, Cleopatra diketahui mati bunuh diri pada 30 Sebelum Masehi, setelah memasukkan anggota tubuhnya ke dalam keranjang penuh ular kobra.
Trier kemudian melakukan eksepedisi bersama ahli lain ke Alexandria, Mesir dan meneliti dokumen kuno serta berkonsultasi dengan ahli ular.
“Cleopatra ingin agar kecantikannya diingat setelah dia mati dengan membuat mitos,” kata dia dalam acara Adventure Science yang ditayangkan stasiun televisi Jerman, ZDF.
“Dia kemungkinan menegak cocktail opium, hemlock, dan aconitum. Di masa itu, campuran ini diketahui sebagai ramuan mematikan dan lebih cepat dari bisa ular,” kata dia. Jika bisa ular mematikan dalam hitungan hari, ramuan ini hanya dalam hitungan jam.


 Cleopatra (51SM - 30 SM) adalah pemimpin terakhir yang memerintah Mesir di era pharaoh. Setelah dia meninggal, Mesir masuk dalam provinsi Romawi.
Untuk menumpas pemberontakan di pemerintahannya, dia lalu bersekutu dengan penguasa Romawi Julius Caesar. Dari hubungannya bersama Julius, Cleopatra punya seorang anak. Di saat bersamaan, dia pun memiliki hubungan khusus dengan Jenderal Romawi Mark Anthony. Dari hubungan ini, mereka punya tiga anak.

 6.Puyi, Kisah Tragis Kaisar Terakhir China



Kaisar terakhir dinasti Qing / Manchu

Aisin Gioro Puyi, putra pertama Tsai Feng yang bergelar Pangeran Chun II (adik bungsu Janda Permaisuri Tzu Hsi/ Cixi) dijemput paksa oleh pengawal istana untuk dijadikan kaisar pada usia 2 tahun, dimana Janda Permaisuri Tzu Hsi yang menunjuknya sebagai pewaris tahta atas nama kaisar sebelumnya Guang Hsu yang telah meninggal, sedang menanti ajal. Dua hari kemudian Tzu Hzi meninggal dunia dan Puyi resmi menjadi kaisar China yang baru dan meneruskan kepemimpinan dinasti Qing. China diawal abad 20 sedang kacau dan semua urusan kenegaraan diselesaikan oleh para pejabat istana.

Kaisar belia yang belum tahu banyak mengenai dunia selain didalam Kota Terlarang, istana tempat keluarga kerajaan tinggal marah saat mengetahui bahwa sedang terjadi revolusi di China dan banyak kaum terpelajar China yang tengah berjuang membangun Republik. Ia semakin bingung ketika mengetahui bahwa setelah tiga tahun bertahta sebagai Kaisar, seorang Republikan bernama Yuan Shih-kai menginginkan penurunan tahtanya. Ia menyadari bahwa ada yang tak beres dengan sistem yang berjalan, dengan dua kepemimpinan dalam sebuah bangsa.

Puyi, 2 tahun, saat menjadi Kaisar
Meski kemudian kehidupannya di kota terlarang berlanjut dengan jaminan Republik melalui sebuah perjanjian, keadaan tak membaik. Puyi mencoba mempelajari apa yang tengah terjadi dibalik tembok Kota Terlarang yang baginya bagai penjara dan terlibat diskusi panjang disetiap pembelajarannya dengan tutor berkebangsaan Inggris. Ia melihat bahwa barat telah jauh lebih maju dari China dan ia memahami bahwa para Republikan ingin mengubah China menjadi lebih baik dan menghapuskan tradisi monarki yang telah berlangsung selama 2000 tahun. Namun ia tak bisa keluar dari Kota Terlarang meski ia ingin belajar ke luar negeri. Ia merasa peraturan di Kota Terlarang sudah kuno. Namun ia tetap tak bisa keluar, hingga Republikan mengusirnya dari istana tak beberapa tahun setelah pernikahannya.

Diusir dari Kota Terlarang oleh rakyatnya sendiri sangat menyakitkan baginya. Kehidupan di pengasingan membuatnya semakin merasa bingung. Disatu sisi banyak pendukung dinasti Qing untuk tetap menjadikannya Kaisar, sementara di sisi lain Republikan membujuknya untuk bergabung di pemerintahan. Sebagai pewaris yang secara terpaksa harus menjaga tradisi leluhur dinasti, Puyi memilih untuk terus memperjuangkan tahtanya dan mengembalikan kejayaan dinasti Qing dengan bantuan para pendukung dinasti yang masih setia. Puyi pun mendapat sokongan dari Jepang.

Jepang membawa Puyi ke Manchuria dan disanalah Puyi mengalami restorasi dan menjadi Kaisar bagi negara baru Manchukuo yang merupakan unifikasi Jepang, China dan Manchu. Namun ia menyadari bahwa Jepang terlalu berkuasa atasnya dan dunia menjadikan momen restorasinya untuk memojokannya sebagai pengkhianat China demi menjadi Kaisar boneka bagi Jepang di Manchuria. Sesungguhnya ia berharap Jepang kalah perang sehingga ia bisa membebaskan diri. Namun ketika Jepang kalah perang dimana-mana oleh pasukan sekutu pada 1945, Puyi menjadi tahanan selama 5 tahun di Uni Soviet. Meskipun selama itu ia mendapatkan perlakuan yang baik karena statusnya sebagai saksi sejarah China, Puyi tetap menghadapi banyak kesulitan. 

Setelah itu ia dibawa kembali ke Manchuria sebagai tahanan bersama keluarga dan pendukung setianya. Pihak Republik melakukan cuci otak dan melakukan penyelidikan besar-besaran atas apa yang selama ini mereka lakukan di Manchuria dibawah kekuasaan Jepang. Puyi yang tak lagi dilayani keluarganya dan harus belajar hidup sebagai orang biasa tampak sebagai orang bodoh dan seringkali menjadi bahan tertawaan. Jika sebelumnya orang-orang bersujud kepadanya dan menghormatinya, kini semua orang menginginkannya menjadi manusia sederajat dan direstorasi menjadi manusia baru dengan paham komunis. Selama di tahanan, Puyi mengalami banyak pembelajaran dan menulis autobiograpinya. 

Pada Desember 1959, Puyi mendapatkan Grasi Khusus dari pengadilan atas hukumannya selama 10 tahun sebagai penjahat perang Manchukuo. Ia bebas dan memulai hidup baru. Ia kembali ke Beijing dan disambut hangat keluarganya yang masih mengangaggapnya 'Yang Mulia'. Perubahan dari 'Yang Mulia Kaisar' yang segala kebutuannya dilayani menjadi orang biasa yang harus melakukan segalanya sendiri memang sulit, meski ia telah belajar selama 5 tahun di tahanan selama cuci otak. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa dunia telah berubah dan ia harus mandiri. Tahun 1960 ia bekerja di Kebun Botani Beijing dan menjadi rakyat biasa yang mengunjungi rumah lamanya, Kota Terlarang sebagai turis lokal. 

Tahun 1965, saat kondisi dunia memburuk, termasuk China, ia tak lagi menjadi tukang kebun, namun melakukan penelitian dan menjadi penulis terkenal yang membawanya duduk sebagai anggota kongres sebagai perwakilan masyarakat Manchu. Tahun 1966 saat meletus revolusi kebudayaan, Puyi meninggal dan posisinya di kongres digantikan adiknya yang paling setia, Pu Cieh. Duduknya Pu Cieh di kongres menunjukkan bahwa kematian Puyi tidak mengakhiri dinasti Manchu dan Pu Cieh sebagai adik warisnya telah menjadi penerusnya. 

Buku ini, tulisan Puyi sendiri, sangat menyentuh. Kisah yang tragis dan mengejutkan dalam kehidupan seorang Kaisar. Membacanya dari sudut pandang rakyat China kebanyakan tentu pantas jika Puyi mendapat perlakukan demikian. Tapi, jika dibaca dari sudut pandang Puyi sebagai pewaris yang hidup dalam kecamuk revolusi, sungguh menyakitkan dan membingungkan.

Wisma Asri, Depok.
- Sebelum membaca kisah ini dan mengetahui sejarah Asia Timur, aku begitu bangga pada China, sekarang tidak lagi. Pemimpin China yang rasis telah melukai sejarah dan menjadikan rakyat China tak tahu kisah Republik mereka yang sesungguhnya. Jika sejarah disampaikan dengan kebohongan, maka mereka yang hidup di masa depan akan berjalan tanpa identitas -


7.Pangeran Terakhir Korea

Sebagian besar dari kita punya pengalaman baik maupun buruk. Tetapi mungkin tidak seburuk seperti yang dialami Yi Seok.

Kakek yang berusia 66 tahun ini dilahirkan di tengah sejarah panjang dinasti kerajaan yang tak pernah terputus.
Kerajaan Chosun memerintah semenanjung Korea lebih dari lima ratus tahun, sampai tahun 1910. Awalnya Yi Seok terbiasa mendapatkan hak istimewa sebagai anak raja. Tetapi setelah terbentuknya republik Korea Selatan, keluarganya dilepaskan dari status mereka. Putra Raja terpaksa mencari uang tambahan sebagai penyanyi dan buruh. Tetapi beberapa tahun terakhir, keberuntungannya berbalik dan sekarang ia ingin mengembalikan kekuasaan keluarga kerajaan. 

Yi Seok lahir 1941 adalah  keturunan dari Dinasti Joseon adalah putra Pangeran Gang Korea, anak 5 Kaisar Gojong Korea dan keponakan dari penerusnya Kaisar Sunjong, raja Korea terakhir, dan merupakan cicit dari Dong Yi .
Saat ini ia adalah seorang profesor sejarah lecturing di Jeonju University di Republik Korea.
Yi Seok lahir dan dibesarkan di Istana Sadong di Seoul selama pendudukan Jepang. Setelah PD II berakhir dengan pendudukan dan partisi Korea oleh sekutu di Selatan, dan Rusia dan Cina di utara, keluarga Kekaisaran Korea menjadi tunawisma, apa aset yang tidak disita oleh Jepang kemudian disita oleh Pemerintah Syngman Rhee. 


Yi lalu  menceritakan kehidupannya di istana.
Waktu saya mau olahraga, saya pakai celana pendeuk, tapi pelayan perempuan istana berdiri di samping dan bilang, “Tidak, paduka-mereka tidak memanggil nama saya-Anda janga lari.” Mereka tidak mengijinkan saya lari dan akhirnya kepala sekolahnya yang menggantikan saya. Anda bisa lihat bagaimana anggota kerajaan diperlakukan.”
 
Ketika  Perang Korea meletus  pada musim panas tahun 1950 keluarga Kekaisaran melarikan diri dari  kapal pendarat Amerika dari Incheon, di sepanjang pantai ke Busan, ia kemudian tinggal di sebuah biara dilereng bukit di Pulau Jeju sampai perang berakhir pada musim gugur tahun 1953.
Ketika ia kembali ke Korea, Yi Seok sebagai seorang pemuda diminta untuk merawat keluarganya.Ia sebisanya, bersama dengan saudara-saudaranya, mengambil setiap pekerjaan yang ia bisa untuk membantu orangtua dan saudaranya sambil belajar di universitas selama masa sulit Perang Korea.
Di Hankook University of Foreign Studies di Seoul, Yi Seok mempelajari bahasa asing, terutama Spanyol, serta hubungan luar negeri dan sejarah, ia  menjadi fasih dalam beberapa bahasa, dan mempersiapkan diri untuk layanan diplomatik.  Dan karena ia memiliki bakat untuk menghibur, ia menjadi seorang penyanyi terkenal dan musisi profesional pada tahun 1960 ketika berusia dua puluhan, memiliki beberapa lagu-lagu hit.
Dan tidak lama kemudian, Yi Seok bisa menghidupi diri, meniti karir sukses sebagai penyanyi, termasuk penghibur pasukan Amerika di pangkalan militer, dan karena itu mereka memanggilnya, “pangeran yang suka bernyanyi”. Disini ia menjadi pasukan sukarela dan terdaftar dalam divisi Tiger. Divisi Tiger adalah Divisi yang terdiri dri para sukarelawan imana prajuritnya menyumbangkan 80% dari gaji mereka untuk pemerintahan Korea Se;atan untuk mendukung ekonomi negara pasca perang.
ketika ia bertugas di infanteri 1 Divisi tiger ia mengalami luka serius akibat pecahan peluru. Ia juga berpartisipasi dalam operasi Tiger 1 dan Tiger 12.
 
Kembali ke Republik Korea, keluarga Kekaisaran kembali diberikan akomodasi di istana di Seoul, tetapi  perlakuan istimewa ini berkahir, saat diktaktor militer berkuasa di Korea pada akhir 1970 yakni kudeta setelah pembunuhan Presiden Park Chung Hee pada tahun 1979, Mereka mengusir keluarga kerajaan dari istana, mencabut status, harta dan gelar mereka. Ibunya sampai membuat gerobak mie dan sebuah bar untuk kehidupan sehari-hari.


Sehingga pada tahun 1980 , Ia kemudian mencoba keberuntungannya di Amerika Serikat.
“Saat saya baru tiba, saya bekerja 16 jam sehari sebagai pekerja kasar karena saya pendatang ilegal. Saya bekerja dengan orang-orang Meksiko dan menerima uang tunai. Lalu pada tahun 1986, saya dapat kewarganegaraan Amerika. Saya bayar 15 ribu dolar ke seorang perempuan untuk kawin kontrak. Saya bekerja di toko minuman keras miliknya di suatu lingkungan keras di Los Angeles dan pernah dirampok 13 kali. Setiap pagi saya merasa gelisah, takut dirampok lagi,”
Yi Seok tinggal 10 tahun di Amerika dan bekerja di semua tempat termasuk membersihkan kolam di kawasan elit Bevery Hills. Hidupnya jauh dari istimewa dan kenyamanan yang pernah ia rasakan.
Pada tahun 1989 Yi Seok kembali ke Korea Selatan, tapi tetap mengalami kesulitan keuangan. Ia tinggal di biara beberapa tahun, berniat jadi biksu. Tapi tidak cocok dengan hidupnya. Dia sering minum minuman keras dan keluar sampai larut malam. Waktu ia pulang pintu biara sudah tertutup. Dalam keputusasaan, ia sering memikirkan untuk bunuh diri.

“Saya mencoba bunuh diri delapan kali. Yang terakhir 1999, saya menabrakkan mobil saya ke gerbang istana. Saya menulis surat wasiat di WC umum. Seorang pemuda yang berada dekat saya membukanya. Ia membacanya dan mengatakan, “Paduka Anda harus beritahu orang mengenai hal ini!” Saya menjawab,”Ini memalukan, lebih baik saya mati sendirian,”
Tapi pertemuan dengan pemuda itu mejadi titik balik. Nasib Yi Seok berubah setelah kisahnya dimuat dalam surat kabar nasional. Laporan tersebut menceritakan seorang keturunan anggota kerajaan dinasti Chosun ditemukan menggelandang, tidur di WC umum.
 
 
Dengan berubahnya  iklim politik  di awal 1990-an, Yi Seok bisa kembali ke Republik Korea, dan sekali lagi berusaha untuk hidup dalam sifat keluarga tua, dan berjuang untuk hak-hak hukum sebagai warga negara pribadi. Setelah serangkaian masa sulit, ia memiliki serangkaian perjalanan, pensiun ke biara, dan baru kembali kehidupan publik  pada awal abad ke-21, dengan serangkaian perjalanan konstan melakukan pekerjaan pendidikan, mempromosikan baik wisata Korea Imperial dan restorasi bangunan bersejarah, dan jadwal yang melibatkan lebih dari 100 ceramah atau penampilan publik setiap tahun. Saat ini ia tinggal di Jeonju, Korea Selatan.Kesulitan dan ketahanan yang khas kehidupan Korea Yi Seok selama  PD II  dibuat menjadi program semi-fiksi TV dramatis pada Korea Broadcasting System (KBS).


Pada bulan Oktober 2004, Yi Seok kembali ke kota kerajaan Jeonju atas undangan walikota, untuk membawa mengembalikan keunggulan budaya di Korea.
Pada bulan Februari 2005, Yi Seok mulai mengajar dua kali kelas mingguan tentang sejarah Korea di Jeonju University dengan gelar profesor. Kelas-Nya berpusat pada tokoh-tokoh zaman Dinasti Joseon serta memperkenalkan sejarah Korea  pra-1900  untuk siswa tahun kedua.


Sepanjang 2006, Yi Seok telah melakukan kunjungan resmi ke luar negeri untuk memberikan beberapa ceramah tentang  budaya tradisional Korea antara lain  kunjungan ke Amerika Serikat (Los Angeles, dan Washington), Mexico City, Meksiko, dan ke Frankfurt, Jerman untuk sebuah pameran perdagangan Korea. Pada bulan September 2006, Yi Seok bepergian sebagai seorang profesor dengan sesama akademisi dan mahasiswa ke Jepang.

Yi Seok juga baru-baru ini menerbitkan sebuah buku tentang ritus seremonial keluarganya. Dia telah setuju untuk menjadi tuan rumah sebuah serial TV, yang saat ini dalam pra-produksi, pada sejarah kerajaan Korea.Berjudul"A Personal View of Korea"  seri dokumenter ini akan menampilkan tiga episode di sejarah Korea, istana dan kuil-kuil, dan 20  arsitektur benteng istana  Dinasti Yi .
Anak-anak :

1. Yi Hong (이홍 i hong) (lahir 1974), anak perempuan tertua dari Yi Seok. Dia menikah dengan Han Yeon-gwang (한영광 han yeong gwang), aktor korea ,memiliki satu anak perempuan (cucu Yi Seok) yang lahir tahun 2001.

2. Yi Jin (이진 i jin) (lahir1979),anak perempuan kedua Yi Seok aktivis hak wanita dan mempromosikan seni keramik tradisional korea .Dia telah banyak melakukan perjalanan sebagai wakil kerajaan dan  melakukan tur di seluruh Eropa, dan telah belajar di Amerika Serikat, Australia, sebagai  tutor pribadi di Kanada, dan telah melakukan kerja singkat  di Jepang. Dia kini tinggal di Kanada.


3. Yi Jung-hun (이정훈 i jeong hun) (lahir 1980), satu-satunya anak laki-laki dariYi Seok .Ia bekerja sebagai ahli IT. Ia kini menetap di Amerika.


Baru-baru ini kota Chonju, tempat kelahiran para anggota keluarga kerajaan, membangun rumah untuknya dan menjadikannya sebagai wakil kota, sebagai daya tarik turis.
Pemerintah kota berharap mendapat keuntungan dari deaskan publik yang tertarik dengan sejarah keluarga kerajaan. Tetapi sebelumnya warga tidak mempedulikan hal ini.
“Nama saya Lee Sang Hyum, saya seniman, tapi sering mempedulikan data sejarah “kejatuhan Dinasti Chosun”. Masyarakat Korea percaya kejatuhan dinasti akibat ketidakberesan para raja Korea mengizinkan Jepang menduduki negara. Dan itulah bagian sejarah yang ingin dilupakan, sejarah yang memalukan. Contohnya kami banyak bercerita tentang para pahlawan kemerdekaan Kora, tapi kami tidak ingin mengingat masa penjajahan karena Jepang telah mencuri negara ini. Hal itu bukan sejarah yang kita dapat banggakan,”
Ketertarikan masyarakat dengan Kerajaan Korea mungkin sebuah tanda, negara ini siap memaafkan dan melupakan kekurangan pemimpin kerajaan terdahulu.
Tapi Yi Seok ingin dapat lebih dari sekedar permintaan maaf. Ambisinya besar untuk melihat kembalinya, paling tidak kebiasaan upacara keluarga kerajaan. Tapi apa masyarakat siap untuk menerima kembalinya sistem monarki?
Saya berada di upacara penghargaan dan Yi Seok diundang sebagai tamu terhormat. Dan saya akan berbicara kepada beberapa orang, untuk mencari tahu pendapat mereka tentang anggota keluarga kerajaan.
Saya mencoba dekati beberapa tamu dengan foto Yi Seok di tangan saya dan menanyakan pertanyaan yang sama kepada setiap orang. “Anda kenal dengan orang ini?”
Orang ini tidak tahu identitas laki-laki yang ada di foto. Tapi akhirnya ia mengatakan itu orang yang pernah menyanyikan “Nest of Doves”.
Perempuan lainnya juga kesulita mengenali Yi Seok. Tapi saat saya menjelaskan ia adalah keturunan kerajaan, perempuan itu mengaku mengenalinya. Namun merasa enggan untuk kembali kepada sistem kerajaan. Bukan hal yang gampang untuk dikembalikan katanya.
Laki-laki berikutnya berhasil mengenali Yi Seok. Saat oa menanyakan pendapatnya tentang kerajaan Korea, ia mengakui menyesali datangnya pengaruh Konfusianisme yang dianut anggota kerajaan Korea. Tapi tetap ia tidak mau kembali pada sistem monarki. “Oh tidak,” Ia mengatakan, negara ini sudah cukup demokratis. Itu ide yang menggelikan.
Tampaknya, jalan masih panjang untuk Yi Seok sebelum ia meraih ambisinya melihat kembalinya monarki di Korea. Tetapi ia tetap bertekad.
Sebelum saya pergi, saya memintanya memilih lagu favorit yang akan dinyanyikan. Ia memilih “Impossibe Dream” yang dinyanyikan Jack Jones dari Kanada. Lagu yang sangat susah untuk dinyanyikan kata Yi Seok. 

Ternyata kehidupan para raja dan Pangeran Korea dari jamn dulu hingga kemerdekaan memang tragis..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar