Pages

Mainan Mahal Belum Tentu Baik dan Bisa Mendidik Anak-anak

Soal ini sih paling sudah banyak yang tahu. Tidak apa-apa, cuma berbagi pengalaman dan referensi saja. Menurut pengalaman saya, ketika datang ke toko mainan yang punya stok cukup banyak biasanya malah bingung. Pilihan kian banyak dengan rentang harga yang sangat variatif. Pilih yang mana? Ada rupa ada harga kata orang. Ini ada benarnya, tapi buat mainan anak, harga sebenarnya bukan soal. Orang tua pada umumnya akan memilih mainan yang mereka anggap bagus. Ini sebetulnya yang menjadi masalah. Apa yang bagus menurut ukuran orang tua belum tentu bagus buat anak.

Ada anak balita tetangga (perempuan) yang beberapa waktu lalu dibelikan mainan relatif mahal, sejenis PSP. Tapi, ternyata si anak tadi justru lebih asyik bermain masak-masakan di taman depan rumah bersama anak saya dengan mainan murah buatan Cina (bukan bermaksud promosi mainan impor). Kenapa? Si anak tetangga tadi tidak terlalu gandrung dengan mainan mahalnya mungkin lantaran dia hanya bisa memainkannya seorang diri, sedangkan teman-temannya tidak punya. Kalau pun dia membawa mainan mahal itu bermain bersama teman-temannya, hasilnya bisa ditebak: pertengkaran.


Mainan yang bagus atau baik mestinya memang tak harus mahal. Juga, mainan yang disukai satu anak belum tentu menarik buat yang lain. Bila ingin membeli mainan, Anda sebaiknya mempertimbangkan juga soal kepribadian anak, apa yang dia suka dan tidak sukai. Anak yang gemar menggambar dan menyusun balok (seperti anak saya) misalnya, mungkin tidak suka disodori mainan dokter. Jadi, mainan apa yang sebaiknya dibeli buat buah hati kita? Berikut ini adalah kompilasi dari sejumlah artikel psikologi anak di internet:

 1. Pilih Aman

Ketika memilih mainan untuk anak, hal utama yang patut kita perhatikan adalah bahwa mainan tersebut aman. Kita sudah sering mendengar ada anak terluka akibat bermain dengan mainan pemberian orang tuanya. Meski sudah ada standarisasi, Anda tetap perlu memeriksa dan memertimbangkan sendiri. Berikut ini adalah panduan sederhana:

Kekuatan: Coba tombol, bagian, potongan, dan hiasan yang ada untuk memastikan anak tak dapat menariknya hingga copot atau tersedak karenanya.

Kerapuhan: Pastikan mainan tak mudah pecah jika terjatuh atau dilempar ke permukaan yang keras. Anak-anak biasanya sering melakukannya.


Cat: Bila Anda termasuk orang yang teliti, coba cek apakah cat mudah mengelupas. Untuk bahan cat apakah berbahaya atau tidak sepertinya memang sulit diketahui tanpa diuji di lab.


Bungkus
dan Isi: Sebaiknya cukup tahan terhadap api. Mainan dari plastik kadang ada yang sangat mudah terbakar. Coba cek standar kualitasnya misalnya seperti di sini.


Ketajaman: Telusuri permukaannya dengan jari. Untuk mainan kayu pastikan tak ada tepi yang retak atau pecah.

 
Stabilitas: Ini untuk mainan yang cukup besar seperti kuda-kudaan atau bangku kecil dari plastik atau kayu.

 
Listrik: Sebaiknya hindari mainan dengan baterai yang mudah terlepas, terutama untuk balita di bawah 4 tahun. Anak mungkin akan mencoba memakan baterai atau bisa terluka ketika mencoba mencabutnya dari mainan.

 
Kebisingan: Nyalakan mainan yang berbunyi dan pastikan suaranya tidak akan merusak pendengaran jika anak mendekatkan mainan itu ke telinga mereka. Sebaiknya jangan pilih mainan yang mengeluarkan nada-nada secara terus-menerus dan keras. Suara yang kencang mungkin dapat menarik perhatian anak, tapi buat apa pilih yang suaranya keras-keras? Nanti anak malah belajar teriak-teriak saat bicara.

 
Komponen: Mainan sebaiknya tidak memiliki komponen yang cukup kecil yang sekiranya muda ditelan oleh anak. Bagian mainan yang bergerak semestinya tetap tertutup rapat.


Tali
: Tali atau senar pada mainan sebaiknya dihindari bila anak masih di bawah 3 tahun karena mereka bisa 
tercekik bila tali tiba-tiba lepas dan membelit leher.

 2. Unsur Pendidikan

Sejak bayi dan balita otak secara konstan menyerap informasi dalam jumlah yang besar. Itu memang wajar dan penting untuk perkembangan otak mereka. Namun, kita mesti berhati-hati memilah dan menakar kualitas serta kuantitas informasi yang akan mereka serap. Tak usah terburu-buru ingin melihat anak pandai membaca dan berhitung pada usia terlalu dini. Juga, menurut saya tak perlu berharap anak bisa cas-cis-cus berbahasa campursari macam Cinta Laura.

Ada pakar psikologi yang berpendapat bahwa pendidikan multi bahasa sejak dini dapat meningkatkan kecerdasan anak. Tapi, ada juga pakar yang menolak penjejalan informasi di usia dini karena malah membingungkan, bukan mencerdaskan. Mana yang benar? Coba lihat saja anak-anak para duta besar, misalnya. Apakah mereka lebih cerdas dari generasi sebaya? Kalau tidak, berhati-hatilah menaruh harapan terlampau tinggi. Pendidikan usia dini buat saya semestinya lebih mengedepankan pembentukan karakter dulu. Misalnya, bagaimana mereka belajar berbagi dengan orang lain, tidak egois, belajar kebersihan, dsb.

Kendati begitu, anak katanya memang perlu diberi tantangan supaya tumbuh menjadi pribadi yang gigih dan pantang menyerah. Cuma, batasannya itu yang sulit diukur. Terlalu menantang akibatnya malah membuat anak gampang patah semangat. Kurang tantangan, maka anak menjadi ringkih atau bisa juga sombong karena merasa serba bisa, serba baik.

Tantangan berupa mainan-mainan edukatif diharapkan bakal memengaruhi pertumbuhan otak hingga optimal serta pemahaman anak nantinya. Namun, ingatlah untuk memilih mainan sesuai usia mereka. Sebuah mainan buat anak umur setahun biasanya membosankan buat anak 2 tahun. Yang paling penting adalah memastikan bahwa anak Anda menikmati mainannya dan tidak malah menjadi frustrasi lalu kehilangan minat belajar.

 2. Sesuai Usia

Jika sebuah mainan jauh di luar pemahaman anak, dia akan cepat frustrasi dan kewalahan. Jika mainan terlalu sederhana atau di bawah tingkat perkembangan anak, mereka akan menjadi bosan dan kehilangan minat. Mainan yang tepat adalah yang dicari supaya dapat membantu pertumbuhan imajinasi serta kreativitas anak. Berikut ini sejumlah tip untuk memilih mainan terbaik sesuai usia anak:

Bayi: 0 - 1 tahun

Di usia ini keselamatan paling utama, terutama dari risiko tersedak atau sesak napas akibat mainan. Pastikan mainan seperti boneka yang tak mudah terbakar, tidak beracun, dan rutin dicuci. Boneka binatang berbulu mungkin belum saatnya diperkenalkan. Mainan semestinya tanpa pernik hiasan seperti kaca mata atau kumis.

Mainan kerincingan dan cincin kenyal untuk digigit harus kuat dan dan bisa dicuci. Tak ada komponen mainan mudah lepas yang muat dalam mulut bayi. Bayi biasanya suka mainan cermin. Tapi pastikan tidak bisa pecah, tidak memiliki tepi tajam, cukup ringan, dan cukup besar untuk tidak tertelan.

Balita: 12 sampai 18 Bulan

Di tahap ini bayi umumnya dapat berdiri atau duduk, namun mungkin belum bisa berjalan sendiri. Mereka suka objek bergerak seperti mainan yang bergerak-gerak dan membuat suara, mainan yang membuka dan menutup, memutar kenop dan menekan tombol.

Pada usia ini anak-anak suka balok-balok, tetapi pastikan blok cukup besar dan tak memiliki sudut tajam. Beberapa buah sudah cukup karena terlalu banyak bisa membingungkan bayi.

Ada juga mainan yang mengajar urut-urutan, baik berdasarkan warna atau ukuran.

Balita: 2 sampai 3 tahun

Anak-anak di usia ini lebih kreatif. Mereka mulai berfantasi dalam permainan. Mereka suka meniru kegiatan orang dewasa. Kelompok usia ini menikmati mainan yang membutuhkan gerakan dan melibatkan ketangkasan.

Boneka yang bisa bicara akan sangat menarik. Mobil-mobilan baik untuk dalam maupun luar ruangan. Puzzle atau teka-teki juga dapat menarik perhatian mereka. Mainan jenis ini relatif bisa dibeli di sembarang toko mainan. Mainan ini dapat memperkuat koordinasi tangan dan mata, keterampilan mencocokkan, dan pengenalan bentuk.

Mainan yang meniru pekerjaan orang dewasa seperti dokter atau masak-memasak juga bagus untuk menginspirasi permainan kreatif. Anda juga bisa mengajarkan anak membereskan mainannya bila dibelikan rak khusus untuk menyimpan mainan. 

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar