Pages

10 Aktivis ‘Revolusioner’ yang Mati Bunuh Diri

Aksi-aksi demonstrasi memang selalu ada dan ramai dilakukan oleh para aktivis, baik secara intelektual, propaganda, turun ke jalan dan menduduki instansi, ataupun melakukan sebuah sabotase dan kekacauan lainnya. Demonstrasi perlawanan tersebut terjadi karena adanya pertentangan kepentingan di dalam sebuah bernegara, antara 'rakyat' dan pemerintah. Dan dalam sebuah aksi selalu memunculkan sosok ataupun persona yang menonjol diantara para aktivis lainnya, sosok ini kemudian dianggap menjadi bintang dan motivator terjadinya gerakan perlawanan. Namun tidak semua sosok aktivis tersebut mampu menahan dan sabar dalam menerima ketidakadilan terhadapnya, beberapa dari mereka memutuskan untuk pensiun dari kancah politik, mencari suaka ke negara lain, dan bahkan beberapa lainnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, seperti 10 aktivis yang melakukan bunuh diri berikut:




1. Yukio Mishima

Yukio Misihima (1925-1970)  merupakan nama pena dari seorang seniman, penyair, penulis dan aktor Jepang, Kimitake Hiraoka. Pria yang memiliki multi-talenta ini pun pernah tiga kali dinominasikan untuk peraih Nobel Penghargaan untuk bidang sastra. Ia adalah seorang pemberani dalam menentang apa yan tidak disukai dan dirasakannya tidak adil. Ia menceburkan diri dalam sebuah aksi upaya kudeta di Jepang. Ia bersama kawan-kawan seperjuangan mendatangi kantor Departemen Pertahanan Jepang, memaksa untuk memasuki gedung dan mendudukinya, dan menyadera seorang komandan yang sedang bertugas. Mishima bergegas ke arah balkon dan melakukan sebuah orasi dihadapan massa dan para prajurit untuk menginspirasi mereka untuk melakukan sebuah pemberontakan terhadap kesewenangan pemerintahan Kekaisaran Jepang. Namun kebanyakan para prajuri dan massa yang saat itu hadir menertawakannya, Mishimo yang diduga merasa dilecehkan, frustasi dan gagal, bergegas mundur, pergi ke sebuah ruangan dan melakukan aksi Sepukku—ritual bunuh diri dalam budaya Bangsa Jepang, dilakukan dengan menusukkan sebilah pedang ke tubuh, sebagai simbol pembelaan harga diri.



2. Meir Feinstein dan Moshe Barazani


Meir Feinstein (1927–1947) dan Moshe Barazani (1928–1947), keduanya terlibat dalam sebuah aksi sabotase di Palestina yang saat itu dikuasai oleh Inggris. Mereka memperjuangkan negara mereka agar terbebas dan merdeka dari usaha membangun Negara Israel—saat itu bangsa Yahudi masih dihantui oleh aksi holocoust Nazi Jerman. Feinstein harus kehilangan tangannya ketika sedang berusaha memasang alat peledak di sebuah stasiun kereta. Bahkan, keberanian Feinstein mengantarkannya pada kematian. Setelah ditangkap dan menolak untuk diberi pendamping hukum serta menolak disidangkan, ia dan Barazani melakukan upaya penyelundupan granat, disembunyikan dalam sebuah jeruk dan meledakkan diri mereka, sebagai upaya menolak hukuman dari pemerintah Inggris.



3. Ulrike Meinhof


Ulrike Meinhof (1934–1976), seorang penulis perempuan yang berbakat dan gencar meneriakan kepentingan perempuan dan aksi militansi gerakan kiri di Jerman. Ia menjadi popular pada percaturan politik Jerman pasca Perang Dunia II, ia bahkan dikenal radikal dan dicap sebagai teroris. Kecantikan, kepintaran dan keberanian, membawanya untuk terlibat lebih jauh dalam sebuah aksi. Salah satu keberhasilannya adalah membebaskan teman sejawatnya di Faksi Red Army, sang perintis Andreas Baader. Ia pun banyak melakukan berbagai perampokan bank dan pemboman. Namun pada suatu waktu ia akhirnya tertangkap,  tak lama setelah ditahan, tubuhnya ditemukan menggantung dalam lilitan anduk di dalam sel. Pesan terakhirnya adalah,  "Resistance is when I ensure what does not please me occurs no more."



4. Berty Albrecht


Kaum laki-laki ternyata tidak selalu mendominasi aksi keberanian dalam usaha pergerakan revolusioner, namun semangat dan gejolak revolusi pun dimiliki oleh kaum hawa, seperti halnya Berty Albrecth (1893-1943). Ia memulai aksi dan menyebarkan pemberontakannya melalui sebuah jurnal yang ditulisnya. Ia menuliskan sebuah kampanye hak asasi perempuan dalam membatasi anak yang akan dikandungnya dan hak untuk melakukan aborsi. Ketika Nazisme merebak di seantero Jerman, ia pun menjadi sukarelawan yang mengurus para pengungsi Jerman di Prancis bersama Henri Frenay, dan mengampanyekan sebuah peralawanan. Tidak hanya dengan menuliskan pemikirannya dalam berbagai pamflet dan menyerang buku-buku  partai Nazi, ia pun menjadi pengatur dalam jaringan aksi perlawanan. Albrecth bahkan mencoba meyakinkan penguasa Prancis bahwa ia tidak berbahaya, namun pihak Jerman terlebih dahulu menangkap dan memenjarakannya. Di dalam penjara, kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.



5. Mohamed Bouazizi


Mohamed Bouazizi (1984–2011), seorang penjaja makanan di jalan raya, yang mendapatkan tindakan pelecehan dari seorang oknum polisi dan barang-barang daganganya pun disita. Merasa diperlakukan tidak adil, ia pun  menyatakan keluhannya terhadap pemerintah, namun upayanya tersebut tidak direspon oleh pemerintah Tunisia saat itu. Sebuah dorongan keberanian dan kekecewaan menuntunnya untuk melakukan sebuah aksi bakar diri di halaman Kantor Gubernur di tahun 2010 lalu. Dikatakan aksinya tersebut juga menginspirasi terjadinya Revolusi di Tunisia, walaupun Bouazizi akhirnya meninggal pada Januari 2011 setelah mendapatkan perawatan dari rumah sakit.  Tak lama kemudian aksi melawan dan upaya melengserkan pemerintahan yang dikuasai oleh rezim Presiden  Zine El Abidine Ben Ali selama 23 tahun.





6. Jan Palach


Negara Republik Cekoslovakia (sekarang berpisah menjadi Republik Ceko dan Slavia) saat itu diinvasi oleh Uni Soviet pada tahun 1968, hal itu terjadi karena perubahan institusi Cekoslovakia menjadi liberal. Bersama dengan aktivis lainnya, seorang mahasiswa bernama Jan Palach (1948-1969) melakukan protes terhadap invasi yang dilakukan oleh negara Uni Soviet, walaupun hingga mengorbankan nyawanya. Pada Januari 1969, ia melakukan sebuah aksi bakar diri di pelataran Alun-Alun Kota Praha. Ia berharap aksinya tersebut akan mendorong pemerintah Cekoslovakia untuk melakukan perlawanan terhadap terhadap invasi Uni Soviet, karena ia merasa pemerintah Cekoslovakia saat itu mengalami demoralisasi. Aksinya tersebut mengantarkan Pallach pada kematiannya, sebuah momen pemberontakkan sekaligus pengorbanan anak bangsa.



7. Moishe Tokar


Moishe Tokar adalah salah satu diantara pemrotes yang tercatat dalam sejarah Revolusi Rusia pada tahun 1905, tinggal dan hidup di Kota Warsawa sebagai salah satu anggota perkumpulan Yahudi yan anarkis. Keberanian dan keyakinannya dalam melakukan sebuah protes secara fisik dan verbal sangat menonjol sehingga namanya dikenal seantero Eropa Timur, khususnya Polandia. Saat itu pun ia kemudian dianggap membahayakan dan dijadikan buronan politik, ia tertangkap dan mengalami banyak penyiksaan dalam masa tahanan. Namun ia berhasil melarikan diri dari penjara Citadel pada tahun 1970. Ketika semua aktivis seangkatannya merasakan kesengsaraan. Tokar hanya merasakan dua tahun masa kebebasannya di  Kota London dan Paris. Ia kembali ke Rusia pada tahun 1909. Setelah mengetahui perlakuan Jendral Sergei Gershelman terhadap para tahanan politik di penjara, sehingga ia memutuskan untuk melakukan sebuah usaha pembunuhan terhadap Sergei Gershelman. Namun usahanya tersebu gagal, ia pun ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Namun sebelum hukuman mati itu terlaksana, Tokar memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia menggunakan parafin dari sebuah lampu untuk melakukan pembakaran diri.



8. Adolph Joffe


Adolph Joffe (1883-1927) memulai pemberontakannya di era Revolusi Rusia yang terjadi pada tahun 1905, namun pada tahun 1906 ia melarikan diri ke Kota Wina, Austria, dan di kota tersebut ia berteman baik dengan Leon Trotsky. Pada tahun 1912 ia ditakangkap di Kota Odessa dan menjalani masa pembuangan di tempat yang terkenal dengan cuaca ekstrimnya, Siberia. Ia dibebaskan di masa Revolusi Februari yang terjadi pada 1917, namun ia tidak menikmati kebebasan dengan menghabiskan waktunya bersama keluarga seperti yang dilakukan oleh para tahanan bebas lainnya. Ia lebih memilih untuk kembali terlibat dalam sebuah gerakan politik dan mendukung segala bentuk perlawanan Leon Trotsky. Ia adalah seorang teman yang setia—kepada Trotsky,  walaupun saat itu dalam keadaan sakit berat dan Trotsky yang telah dibuang oleh Stalin dari Partai Komunis, melakukan sebuah protes yang mengakibatkan nyawanya meregang.



9. Jacques Roux 


Jacques Roux (1752-1759) memiliki alasan yang kuat dan tepat untuk memutuskan tidak terlibat dalam Revolusi Prancis, karena ia adalah seorang Pendeta Katolik Roma dan sibuk dalam melakukan pengabdiannya terhadap keagamaan dan kemanusiaan. Namun realita yang terjadi selama Revolusi Prancis, membuatnya gerah, sehingga ia meninggalkan baju kependetaannya. Roux pun bergabung dengan sebuah komunitas pergerakan di Paris, ia pun menjadi pemimpin sebuah gerakan, itu terjadi karena Roux adalah seorang yang memiliki keberanian dan intelektualitas terhadap ide-ide demokrasi di Kota Prancis. Salah satu peristiwa yang berhasil digagasnya adalah peristiwa kekacauan pangan di tahun 1793. Pada September di tahun yang sama, ia ditangkap, dan Pengadilan Pemerintah Demokrasi saat itu menjatuhkan hukuman mati, namun sebelum itu terjadi terlebih dahulu Roux memutuskan untuk bunuh diri.



 10. Eduardo Chibás

Eduardo Chibas (1907-1951) adalah seorang senator Kuba yang berpengaruh dan anti-komunis. Selama berkarir di kancah politik Kuba, ia berjuang untuk  mengungkapkan berbagai penyimpangan seperti korupsi hingga level teratas, dengan bantuan partai Ortodoksnya, ia pun salah satu yang memimpikan adanya revolusi politik melalui upaya konstitusional. Bahkan disebuah acara radio terakhirnya, ia berdebat hingga memukul lawan bicaranya yang dianggap mengorganisasikan sebuah upaya kudeta. Ia pun berjanji dalam acara radio tersebut, untuk menunjukan sebuah bukti kuat, namun upayanya tersebut gagal, merasa malu terhadap para pendengar radio, ia mengambil pistol dan meledakan kepalnya sendiri.


sumber